MAKALAH PENGANTAR LINGKUNGAN
PERKEMBANGAN PENDUDUK INDONESIA
Disusun oleh :
Nama: Thariq Noor Hakiki
Kelas: 2IB02
NPM: 16415864
Fakultas Teknologi Industri
Teknik Elektro
Universitas Gunadarma
2016
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat
Tuhan yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan
penyusunan Makalah Pengantar Lingkungan dengan judul “Perkembangan Penduduk Indonesia"
dengan lancar. Makalah ini tidak akan selesai
tanpa referensi buku dan website
pelajar lainnya. Saya berharap makalah ini dapat memberikan manfaat dan dapat
dimengerti isi dari makalah ini bagi pembaca.
Saya mengaharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun dari pembaca untuk kelayakan makalah ini. Apabila
terdapat kesalahan pada makalah ini, saya mohon maaf. Atas perhatian pembaca,
kami mengucapkan terima kasih.
Depok, 9 November 2016
Penulis
DAFTAR ISI
Kata pengantar…………………………………………………………………………………......i
Daftar isi…………………………………………………………………………………………...ii
Bab I Pendahuluan………………………………………………………………………………....1
1.1.
Latar Belakang………………………………………………………………………...1
1.2.
Rumusan Masalah……………………………………………………………………..1
1.3.
Tujuan Penulisan………………………………………………………………………1
Bab II Pembahasan…………………………………………………………………………………2
2.1. Landasan
Perkembangan Penduduk Indonesia……………………..…………………….2
2.2. Pertambahan
Penduduk dan Lingkungan Pemukiman……………………..……………..3
2.3. Pertumbuhan
Penduduk dan Tingkat Pendidikan…………………………………………4
2.4. Pertumbuhan Penduduk dan Penyakit yang Berkaitan dengan Lingkungan
Hidup……….....5
2.5. Pertumbuhan Penduduk dan Kelaparan……………………………………………………....5
2.6. Kemiskinan
dan Keterbelakangan……………………………………………………….……6
Bab III Penutup……………………………………………………………………………………7
3.1.
Kesimpulan……………………………………………………………………………7
3.2.
Saran…………………………………………………………………………………..7
Daftar Pustaka……………………………………………………………………………………..8
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Laju pertumbuhan penduduk merupakan permasalahan krusial yang dihadapi
oleh negara-negara berkembang di dunia, khususnya negara-negara berpenduduk
besar dan padat sperti Indonesia. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan data
dasar yang diperoleh mengenai jumlah kelahiran, sehingga diperlukan berbagai
upaya yang berkesinambungan untuk menurunkan laju pertumbuhan penduduk.
Indonesia sebagai suatu negara yang sedang berkembang dengan jumlah penduduk
terbesar di dunia, juga menghadapi persoalan yang serupa.
Laju
pertumbuhan penduduk di Indonesia senantiasa mengalami peningkatan. Hal ini
tercermin dari hasil sensus penduduk 2010, Indonesia menunjukkan gejala ledakan
penduduk. Jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 tercatat 237,6 juta jiwa dengan
laju pertumbuhan 1,49 persen pertahun, sementara pada tahun 2008 masih tercatat
288,53 juta jiwa. Laju pertumbuhan penduduk ini jika tetap pada angka itu, pada
2045 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 450 juta jiwa. Peningkatan
penduduk yang tinggi ini akan mengakibatkan permasalahan jika tidak
dikendalikan (BKKBN, 2010).
Definisi
dari laju pertumbuhan penduduk itu sendiri adalah Angka yang menunjukan tingkat
pertambahan penduduk pertahun dalam jangka waktu tertentu. Angka ini dinyatakan
sebagai persentase dari penduduk dasar. Laju pertumbuhan penduduk dapat
dihitung menggunakan tiga metode, yaitu aritmatik, geometrik, dan eksponesial.
Metode yang paling sering digunakan di BPS adalah metode geometrik.
Dan factor imigrasi juga dapat membuat laju penduduk bertambah
pesat. Dengan bertambahnya jumlah penduduk, berdampak kepada kebutuhan Primer
dan pekerjaan, serta kesehatan dan keadaan financial semakin rendah.
1.2.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas,
didapatkan beberapa rumusan masalah, yaitu:
a. Landasan
Perkembangan Penduduk Indonesia
b. Pertambahan
Penduduk dan Lingkungan Pemukiman
c. Pertumbuhan Penduduk
dan Tingkat Pendidikan
d. Pertumbuhan
Penduduk dan Penyakit yang Berkaitan dengan Lingkungan Hidup
e. Pertumbuhan
Penduduk dan Kelaparan
f. Kemiskinan dan Keterbelakangan
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan dari
penulisan makalah ini adalah:
a.
Mengetahui
laju pertumbuhan penduduk di Indonesia
b.
Mengetahui
dampak dari pertambahan penduduk
c.
Agar
mengerti cara untuk mengurangi pertumbuhan penduduk di Indonesia
d.
Agar
mengerti cara mengurangi dampak dari pertambahan penduduk
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Landasan Perkembangan
Penduduk Indonesia
Yang menjadi landasan pertumbuhan atau
pertambahan jumlah penduduk Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain tingkat kelahiran dan urbanisasi. Kedua faktor ini yang kemudian menjadi
salah satu penyebab tidak seimbangnya laju pertumbuhan ekonomi dan sosial,
ketidakseimbangan tersebut dapat terjadi apabila angka laju pertumbuhan
penduduk pada suatu wilayah tidak seimbang dengan angka laju pertumbuhan
ekonomi dan sosial pada wilayah tersebut. Selain itu, masih adanya disparitas
pembangunan antara daerah perkotaan dan perdesaan yang juga merupakan salah
satu penyebab terjadinya arus migrasi dari satu wilayah yang lain.
Pertumbuhan penduduk terbagi atas 2 sebagai berikut:
a. Pertumbuhan
Penduduk Alami
Pertumbuhan penduduk alami adalah selisih antara jumlah
kelahiran dengan jumlah kematian. Rumus untuk menghitung pertumbuhan penduduk
alami adalah:
T = (L – M)
L = jumlah kelahiran
M=jumlah kematian
b. Pertumbuhan Penduduk Total
Berbeda dengan pertumbuhan penduduk alami, pertumbuhan
penduduk total memperhitungkan migrasi (imigrasi dan emigrasi) Dengan rumus :
T = (L - M) + (I – E)
L = jumlah kelahiran
M = jumlah kematian
I = jumlah imigrasi
E = jumlah emigrasi
Pertumbuhan penduduk digolongkan dalam kategori tinggi, sedang,
dan rendah. Pertumbuhan penduduk tinggi jika lebih dari 2%, sedang jika 1% -
2%, dan rendah jika kurang dari 1%.
Hasil sensus penduduk 2010 tercatat 237,6 juta jiwa sebagai
bukti pertumbuhan penduduk Indonesia 5 tahun lebih cepat dari proyeksi BPS. Karena
proyeksi semula, tahun 2010 baru berjumlah 234,2 juta dan tahun 2015 berkisar
237,8 juta jiwa. Kenyataannya, tahun 2010 penduduk Indonesia sudah mencapai
237,6 juta jiwa.
Demikian diungkapkan direktur Jaminan dan Pelayanan KB, BKKBN
Pusat, Setia Edi dalam acara peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia di Jakarta,
yang dirilis bkkbn.co.id, Sabtu (25/9/2010). Ia mengingatkan, jika program KB
diabaikan maka pertumbuhan penduduk Indonesia tak terkendali.
"Pengnedalian penduduk harus menjadi prioritas. Apalagi kesehatan
dan usia harapan hidup meningkat sehingga tanpa pengendalian rawan terjadi
ledakan jumlah penduduk. Jumlah penduduk 237,6 juta mendekati proyeksi BPS
untuk jumlah penduduk tahun 2015 yakni 237,8 juta jiwa. Angka itu sudah
tercapai sekarang. Dengan melencengnya proyeksi itu, jumlah penduduk
diperkirakan 264,4 juta tahun 2015," ujar dia.
Pemerintah mempunyai target baru. Pada 2014 ditargetkan angka
fertilitas total (angka kelahiran/TFR) 2,1 dan pengguna kontrasepsi 65 persen.
Saat ini TFR 2,3 dan pengguna kontrasepsi 61,4 persen. Selain itu ditargetkan
empat tahun ke depan 'unmeet need' 5 persen dan usia kawin pertama 21 tahun.
Kendala program KB adalah otonomi daerah yang mengakibatkan
keterputusan koordinasi dan implementasi program secara luas. Tidak semua
daerah mempunyai struktur yang khusus mengurusi KB. Di tengah perubahan itu
fungsi petugas penyuluh lapangan KB (PLKB) juga tergerus karena kurang
dukungan. Padahal PLKB penting untuk mengedukasi dan memberikan konseling
sehingga masyarakat dapat merencanakan keluarga dengan baik dan rasional.
2.2. Pertambahan Penduduk dan Lingkungan Pemukiman
Tingkat pertumbuhan penduduk yang
tidak terkendali dapat mengakibatkan munculnya kawasan-kawasan permukiman kumuh
dan squatter (permukiman liar).
Dan tidak hanya
kawasan pumikaman kumuh dan squatter, ada beberapa penduduk yang tinggal dengan
cara nomaden(mengembara) yang diakibatkan oleh kurangnya lahan untuk penduduk
kecil dan harga untuk kebutuhan papan sangat tinggi. Dan akibat dari pemukiman
kumuh dan sqatter adalah memperburuk penataan ruang di Indonesia yang membuat
daerah perumahan dan jalanan semakin kecil. Menurut
Soemarwoto (1991:230-250) bahwa secara rinci dampak kepadatan penduduk sebagai
akibat laju pertumbuhan penduduk yang cepat terhadap kelestarian lingkungan
adalah sebagai berikut:
(1) Meningkatnya limbah rumah tangga sering
disebut dengan limbah domestik. Dengan naiknya kepadatan penduduk berarti
jumlah orang persatuan luas bertambah. Karena itu jumlah produksi limbah
persatuan luas juga bertambah. Dapat juga dikatakan di daerah dengan kepadatan
penduduk yang tinggi, terjadi konsentrasi produksi limbah.
(2) Pertumbuhan penduduk yang terjadi bersamaan
dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang melahirkan industri dan sistem transport
modern. Industri dan transport menghasilkan berturut-turut limbah industri dan
limbah transport. Di daerah industri juga terdapat kepadatan penduduk yang
tinggi dan transport yang ramai. Di daerah ini terdapat produksi limbah
domsetik, limbah industri dan limbah transport.
(3) Akibat pertambahan penduduk juga
mengakibatkan peningkatan kebutuhan pangan. Kenaikan kebutuhan pangan dapat
dipenuhi dengan intensifikasi lahan pertanian, antara lain dengan mengunakan
pupuk pestisida, yang notebene merupakan sumber pencemaran. Untuk masyarakat
pedesaan yang menggantungkan hidupnya pada lahan pertanian, maka seiring dengan
pertambahan penduduk, kebutuhan akan lahan pertanian juga akan meningkat.
Sehingga ekploitasi hutan untuk membuka lahan pertanian baru banyak dilakukan.
Akibatnya daya dukung lingkungan menjadi menurun. Bagi mereka para peladang
berpindah, dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk yang sedemikian cepat,
berarti menyebabkan tekanan penduduk terhadap lahan juga meningkat. Akibatnya
proses pemulihan lahan mengalami percepatan. Yang tadinya memakan waktu 25
tahun, tetapi dengan semakin meningkatnya tekanan penduduk terhadap lahan maka
bisa berkurang menjadi 5 tahun. Saat dimana lahan yang baru ditinggalkan belum
pulih kesuburannya.
(4) Makin besar jumlah penduduk, makin besar
kebutuhan akan sumber daya. Untuk penduduk agraris, meningkatnya kebutuhan
sumber daya ini terutama lahan dan air. Dengan berkembangnya teknologi dan
ekonomi, kebutuhan akan sumber daya lain juga meningkat, yaitu bahan bakar dan
bahan mentah untuk industri. Dengan makin meningkatnya kebutuhan sumber daya
itu, terjadilah penyusutan sumber daya. Penyusutan sumber daya berkaitan erat
dengan pencemaran. Makin besar pencemaran sumber daya, laju penyusunan makin
besar dan pada umumnya makin besar pula pencemaran.
2.3.
Pertumbuhan Penduduk dan Tingkat Pendidikan
Pertumbuhan penduduk berdampak pada
tingkat pendidikan, karena adanya batasan-batasan dalam pendidikan dan
kurangnya lahan atau tempat untuk belajar. Jika tingkat pendidikan semakin
rendah, maka berbanding lurus dengan tingkat kebodohan/penangguran suatu
negara.
Tingkat
pendidikan yang buruk dapat menyebabkan anak-anak mengalami depresi. Hal ini
memicu terjadinya pekerjaan-pekerjaan yang tidak layak dilakukan oleh anak-anak
di bawah umur. Bahkan dampak lain dari masalah ini bisa menyebabkan tingkat
tindakan kriminal yang dilakukan anak-anak meningkat. Generasi muda dan
anak-anak yang cerdas adalah kunci kemajuan suatu negara. Jika masa kanak-kanak
mereka diisi dengan hal-hal negatif maka jalan menuju kesuksesan bangsa akan
semakin jauh.
Di
negara-negara yang anggaran pendidikannya paling rendah, biasanya menunjukkan
angka kelahiran yang tinggi. Tidak hanya persediaan dana yang kurang, tetapi
komposisi usia secara piramida pada penduduk yang berkembang dengan cepat juga
berakibat bahwa rasio antara guru yang terlatih dan jumlah anak usia sekolah
akan terus berkurang.
Negara Indonesia merupakan negara
yang sedang berkembang sehingga untuk melaksanakan pembangunan dalam segala
bidang belum dapat berjalan dengan cepat, karena kekurangan modal maupun tenaga
tenaga ahli/ terdidik, Akibatnya fasilitas secara kualitatif dalam bidang
pendidikan masih terbatas. Pertambahan penduduk yang cepat, lepas daripada
pengaruhnya terhadap kualitas dan kuantitas pendidikan, cenderung untuk
menghambat perimbangan pendidikan. Kekurangan fasilitas pendidikan menghambat
program persamaan atau perimbangan antara pedesaan dan kota, dan antara bagian
masyarakat yang kaya dan miskin. Oleh karena itu, masyarakat dalam mencapai
pendidikan yang tinggi masih sedikit sekali. Hal ini disebabkan karena :
1. Tingkat kesadaran masyarakat untuk
bersekolah rendah.
2. Besarnya anak usia sekolah yang tidak
seimbang dengan penyediaan sarana pendidikan.
3. Pendapatan perkapita penduduk di Indonesia
rendah sehingga belum dapat memenuhi Kebutuhan hidup primer, dan untuk biaya
sekolah.
Dampak yang
ditimbulkan dari rendahnya tingkat pendidikan terhadap pembangunan adalah:
1. Rendahnya penguasaan teknologi maju,
sehingga harus mendatangkan tenaga ahli dari negara maju. Keadaan ini sungguh
ironis, di mana keadaan jumlah penduduk Indonesia besar, tetapi tidak mampu
mencukupi kebutuhan tenaga ahli yang sangat diperlukan dalam pembangunan.
2. Rendahnya tingkat pendidikan mengakibatkan
sulitnya masyarakat menerima hal-hal yang baru. Hal ini nampak dengan ketidak
mampuan masyarakat merawat hasil pembangunan secara benar, sehingga banyak
fasilitas umum yang rusak karena ketidakmampuan masyarakat memperlakukan secara
tepat. Kenyataan seperti ini apabila terus dibiarkan akan menghambat jalannya
pembangunan.
2.4. Pertumbuhan
Penduduk dan Penyakit yang Berkaitan dengan Lingkungan Hidup
Pertumbuhan
penduduk terhadap lingkungan pemukiman kumuh dan squatter berdampak kepada
lingkungan hidup dan terjadinya perkembangan penyakit dan timbulnya jenis
penyakit baru.
Keadaan kesehatan lingkungan di Indonesia masih merupakan hal yang
perlu mendapaat perhatian, karena menyebabkan status kesehatan masyarakat
berubah seperti: Peledakan penduduk, penyediaan air bersih, pengolalaan
sampah,pembuangan air limbah penggunaan pestisida, masalah gizi, masalah
pemukiman, pelayanan kesehatan, ketersediaan obat, populasi udara, abrasi
pantai,penggundulan hutan dan banyak lagi permasalahan yang dapat menimbulkan
satu model penyakit. Jumlah penduduk yang sangat besar 19.000 juta harus
benar-benar ditangani masalah.pemukiman sangat penting diperhatikan. Pada saat
ini pembangunan di sektor perumahan sangat berkembang, karena kebutuhan yang
utama bagi masyarakat. Perumahan juga harus memenuhi syarat bagi kesehatan baik
ditinjau dari segi bangungan, drainase, pengadaan air bersih, pentagonal sampah
domestik uang dapat menimbulkan penyakit infeksi dan ventilasi untuk
pembangunan asap dapur.
Indonesia saat ini mengalami transisi dapat terlihat dari
perombakan struktur ekonomi menuju ekonomi industri, pertambahan jumlah
penduduk, urbanisasi yang meningkatkan jumlahnya, maka berubahlah beberapa
indikator kesehatan seperti penurunan angka kematian ibu, meningkatnya angka
harapan hidup ( 63 tahun ) dan status gizi. Jumlah penduduk terus bertambah,
cara bercocok tanam tradisional tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan hidup
masyarakat. Pertumbuhan Penduduk yang tidak merata tersebut sangat berpengaruh
dengan lingkungan, penduduk yang tinggal dipemukiman yang sembarangan akan
mengakibatkan lingkungan yang tidak bersih. Lingkungan yang tidak dijaga akan
mengakibatkan penyakit yang dapat mengacam kesehatan manusia, misalnya penyakit
yang diakibatkan oleh lingkungan adalah Malaria, Muntaber, Penyakit Kulit,
Tifus, dll. Seperti banjir, polusi air, dan polusi udara adalah faktor yang
mengakibatkan terjadinya penyakit.
2.5. Pertumbuhan
Penduduk dan Kelaparan
Ketika pertumbuhan
penduduk naik maka angka kelaparan pun juga ikut naik, Karena kurangnya suplai
makanan yang dibutuhkan tidak mencukupi seluruh penduduk dan salah satu factor utama
dalam suplai makanan adalah uang dan melebihkan batas suplai bagi orang-orang
tingkat atas. Kekurangan gizi dan angka kematian anak meningkat di sejumlah
kawasan yang paling buruk di Asia dan Pasifik kendati ada usaha internasional
untuk menurunkan keadaan itu, kata sebuah laporan badan kesehatan PBB hari
Senin. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa sasaran kesehatan yang
ditetapkan berdasarkan delapan Tujuan Pembangunan Milenium PBB tahun 2000 tidak
akan tercapai pada tahun 2015 berdasarkan kecnderungan sekarang. “Sejauh ini
bukti menunjukkan bahwa kendati ada beberapa kemajuan, di banyak negara,
khususnya yang paling miskin, tetap ketinggalan dalam kesehatan,” kata Dirjen
WHO Lee Jong Wook dalam laporan itu. Kendati tujuan pertama mengurangi
kelaparan, situasinya bahkan memburuk sementara negara-negara miskin berjuang
mengatatasi masalah pasokan pangan yang kronis.
2.6. Kemiskinan dan Keterbelakangan
Kemiskinan
dan keterbelakangan merupakan dua hal yang saling berkaitan, karena kemiskinan
membuat diri kita tidak mampu mengikuti batas normal kehidupan yang menyebabkan
keterbelakangan dari orang lain. Kemiskinan dan keterbelakangan merupakan
masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan
komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif,
dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan,dll.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara.
Pemahaman
utamanya mencakup:
a. Gambaran kekurangan materi, yang biasanya
mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan
kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipsdfgeggahami sebagai situasi kelangkaan
barang-barang dan pelayanan dasar.
b.
Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial,
ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal
ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan
dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan
tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
c. Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan
kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda
melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.
Kartasasmita mengatakan bahwa kemiskinan merupakan masalah dalam
pembangunan yang ditandai dengan pengangguran dan keterbelakangan, yang
kemudian meningkat menjadi ketimpangan. Masyarakat miskin pada umumnya lemah
dalam kemampuan berusaha dan terbatas aksesnya kepada kegiatan ekonomi sehingga
tertinggal jauh dari masyarakat lainnya yang mempunyai potensi lebih tinggi.
Hal tersebut senada dengan yang dikatakan Friedmann yang mengatakan bahwa
kemiskinan sebagai akibat dari ketidak-samaan kesempatan untuk mengakumulasi
basis kekuatan sosial. Namun menurut Brendley, kemiskinan adalah
ketidaksanggupan untuk mendapatkan barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang memadai
untuk memenuhi kebutuhan sosial yang terbatas. Hal ini diperkuat oleh Salim
yang mengatakan bahwa kemiskinan biasanya dilukiskan sebagai kurangnya
pendapatan untuk memperoleh kebutuhan hidup yang pokok. Sedangkan Lavitan
mendefinisikan kemiskinan sebagai kekurangan barang-barang dan pelayanan yang
dibutuhkan untuk mencapai suatu standar hidup yang layak.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Perkembangan penduduk merupakan hal yang baik sebab dengan
bertambahnya jumlah penduduk, semakin banyak lapangan pekerjaan untuk membuka
lowongan pekerjaan, tetapi di negara berkembang pertumbuhan penduduk ini
menjadi penghambat bagi segala aspek, karena dengan jumlah penduduk yang
semaklin bertambah, kekurangan juga semakin bertambah maka negara tersebut
tidak bisa menjadi negara maju.
3.2. Saran
Saran saya agar para pembaca dapat memperlambat nilai pertambahan
penduduk, dan meningkatkan produktivitas-nya supaya segala aspek terpenuhi,
sehingga negara Indonesia akan menjadi negara maju.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar